Jumat, 13 Juli 2012

Analisis Novel Dbawah Lindungan Ka'bah

ANALISIS NOVEL “DIBAWAH LINDUNGAN KA’BAH” KARYA HAMKA HAMZAH

 

Oleh
HAFID RIYADI (0910221055)


JURUSAN PENDIDIKAN BAHASA, SASTRA INDONESIA, DAN BAHASA DAERAH
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN

UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH JEMBER
2012

KATA PENGANTAR
Pertama-tama kami ingin mengucapkan puji dan syukur kepada Tuhan yang Maha Esa yang telah memberkati kami sehingga analisis ini dapat diselesaikan. Kami juga ingin mengucapkan terima kasih bagi seluruh pihak yang telah membantu kami dalam pembuatan analisis ini dan berbagai sumber yang telah kami pakai sebagai data dan fakta pada analisis ini.
Kami mengakui bahwa kami adalah manusia yang mempunyai keterbatasan dalam berbagai hal. Oleh karena itu tidak ada hal yang dapat diselesaikan dengan sangat sempurna. Begitu pula dengan analisis ini yang telah kami selesaikan. Tidak semua hal dapat kami deskripsikan dengan sempurna dalam analisis ini. Kami melakukannya semaksimal mungkin dengan kemampuan yang kami miliki. Dimana kami juga memiliki keterbatasan kemampuan.
Maka dari itu seperti yang telah dijelaskan bahwa kami memiliki keterbatasan dan juga kekurangan, kami bersedia menerima kritik dan saran dari pembaca yang budiman. Kami akan menerima semua kritik dan saran tersebut sebagai batu loncatan yang dapat memperbaiki analisis kami berikutnya. Sehingga analisis berikutnya dapat diselesaikan dengan hasil yang lebih baik.


Jember, 01 Juli 2012
Penulis





Analisis Novel “Di Bawah Lindungan Ka’bah” Karya Hamka Hamzah
Unsur Intrinsik
1.      Judul = di bawah lindungan ka’bah
Judul ini diambil karena dalam cerita ini disampaikan tentang perasaan seorang pemuda yang berdoa kepada tuhan agar permintaanya dikabulkan dibawah lindungan ka’bah. Datanya pada halaman 77-78 :

“Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha pengasih dan penyayang! Bahwasannya, di bawah lindungan ka’bah, rumah engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia.
Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan kepada engkau, ya tuhan!
Tidak ada seutas talipun tempat saya bergantung lain dari pada tali engkau ; tida ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain dari pada pintu engkau.
Berikan kelapangan jalan buat saya, hendak pulang ke hadirat engkau ; saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya.
Ya rabbi, engkaulah yang maha kuasa, kepada engkaulah kami sekalian akan kembali……”

2.       Tema = cinta yang terhalang olek setatus sosial
Novel ini bertema tentang cinta yang terhalang oleh setatus social, dalam novel ini menceritakan tentang kisah percintaan yang terhalang oleh setatus sosial sehingga pasangan pemuda tersebut harus menahan perasaannya demi menjaga perasaan orang tuanya sampai-sampai keduanya sama-sama meninggal. Datanya pada halaman 18 :

Setelah rumah itu selesai diperbaiki, pindahlah seorang hartawan itu kesana bersama dengan istri dan seorang anaknya perempuan. Di hadapan rumah itu, di atas satu batu marmar yang licin dan mungil ada tertulis leter : haji ja’far.



3.      Penokohan dan Perwatakan
3.1  Penokohan
a.       Hamid : pemuda yang berbudi luhur dan taat beragama. Ia adalah seorang anak yatim dari sebuah keluarga miskin.

Datanya pada halaman 14 -15:

Iya meninggalkan saya dan ibu didalam kadaan yang sangat melarat. Rumah tempat kami tinggal hanya sebuah rumah kecil yang telah tua, yang lebih pantas kalau disebut gubuk atau dangau. Kemiskinan telah menjadikan ibu putus harapan memandang kehidupan dan pergaulan dunia ini, karena tali tempat bergantung sudah putus dan tanah tempat berpijak sudah terban. Hanyalah saya yang tinggal, jerat semata, tempat dia menggantungkan pengharapan untuk zaman yang akan datang, zaman yang masih gelap.

b.      Zainab : anak gadis Haji Ja’far. Ia adalah gadis yang berhati mulia, taat kepada kedua orang tuanya, dan selalu menjalankan perintah agama.

Datanya pada halaman 21 dan 26:

Sejak itu saya telah leluasa datang kerumah itu. Saya sudah beroleh seorang adik yang tidak berapa tahun kecilnya daripada saya, yaitu anak perempuan di gedung besar itu. Zainab namanya.

Zainab sendiri, sejak tamat sekolah, telah tetap dalam rumah, didatangkan baginya guru dari luar yang akan mengajarkan berbagai-bagai kepandaian yang perlu bagi anak-anak perempuan, seperti menyuji, merenda, memasak dan lain-lain. Petang hari ia menyambung pelajarannya dalam perkara agama.

c.       Haji Ja’far : seorang suadagar kaya yang berhati baik.

Datanya pada halaman 24 :

Amat besar budi engkau haji ja’far kepada saya, banyak kepandaian yang saya peroleh karena kebaikan budinya itu.

d.      Asiah ; istri Haji Ja’far. Ia adalah sangat berbudi luhur dan baik hati.

Datanya pada halaman 21 :

Peribahasa yang halus dari mak asiah, adalah didikan juga daripada suaminya, seorang hartawan yang amat peramah kepada fakir dan miskin.

e.       Rosna : teman sepermainan dan sahabat kental Zainab. Ia juga berbudi luhur dan taat kepada ajaran agama.

Datanya pada halaman 60 :

“Ingatkah engkau, Ros, bahwa dahulu ada tinggal di dekat rumahku ini seorang anak muda bernama hamid?”
“masakan saya tak ingat, anak mudah yang baik budi dan beroleh pertolongan dari almarhum ayahmu itu”.

f.       Saleh : sahabat karib yang berbudi luhur dan taat beragama. Dialah suami Rosna

Datanya pada halaman 10 :

Kedatangan sahabat baru itu mengubah keadaan dan sifat-sifat hamid. Entah kabar apa agaknya yang baru dibawah saleh dari kampung yang mengganggu ketentraman pikiran hamid.

3.1.1        Tokoh Utama = hamid dan zainab

karena hamid dan zainab adalah orang yang menjadi pokok terbentuknya suatu masalah dalam cerpen tersebut.




3.1.2        Tokoh Bawaan = ibu hamid, haji ja’far, mak asiah, saleh, dan rosna.

Karena kelima tokoh tersebut merupakan tokoh yang membantu jalannya suatu cerita pada cerpen tersebut.

4.      Konflik
4.1  Internal
Hamid benar-benar harus mengubur perasaan cintanya kepada Zainab ketika Haji Ja’far, ayah Zainab yang sekaligus ayah angkatnya, meninggal dunia. Tidak lama kemudian, ibu kandungnya pun meninggal dunia. Betapa pilu hatinya ditinggalkan oleh kedua orang yang sangat dicintainya. Kini ia merasa hidup sebatang kara. Ia merasa tidak lebih sebagai pemuda yatim piatu yang miskin. Sejak kematian ayah angkatnya, Hamid tidak dapat menemui Zainab lagi karena gadis itu telah dipingit ketat oleh mamaknya.
Hati Hamid semakin hancur ketika ia mengetahui bahwa mamaknya, Asiah akan menjodohkan Zainab denga seorang pemuda yang memiliki hubungan kekerabatan dengan almarhum ayah angkatnya. Bahkan Mak Asiah menyuruh Hamid untuk membujuk Zainab agar gadis itu menerima pamuda pilihan ibunya sebagai calon suaminya. Betapa hancur hati Hamid menerima kenyataan itu. Cinta kasih kepada pujaan hatinya tidak akan pernah tercapai.
Dengan berat hati, Hamid menuruti kehendak Mak Asiah. Dia menemui Zainab dan membujuk gadis itu agar menerima pemuda pilihan mamaknya. Menerima kenyataan tersebut hati Zainab menjadi sangat sedih. Dalam hatinya, ia ingin menolak kehendak mamaknya, namun ia tidak mampu melakukannya. Maka dengan sangat terpaksa, ia menerima pemuda pilihan orang tuanya itu. Setelah kejadian itu Hamid memutuskan untuk pergi meninggalkan kampung halamannya. Ia tidak sanggup menanggung beban yang begitu berat. Itulah sebabnya, ia meninggalkan Zainab dan pergi ke Medan. Sesampainya di Medan, dia menulis surat kepada Zainab. Dalam suratnya, dia mencurahkan isi hatinya kepada gadis itu. Dari Medan, Hamid melanjutkan perjalanan menuju Singapura. Kemudian, dia pergi ke tanah suci Mekkah.
Betapa sedih dan hancurnya hati Zainab ketika ia menerima surat dari Hamid. Gadis itu merasa tersiksa karena iapun mencintai Hamid. Ia sangat merindukan pemuda itu. Namun, ia harus melupakan cintanya karena mamaknya telah menjodohkan dirinya dengan pemuda lain. Karena selalu dirundung kesedihan, Zainab menjadi sering sakit-sakitan dan ia kehilangan semangat hidupnya.
Sementara itu, Hamid pun selalu dirundung kegelisahan karena menahan beban rindunya kepada Zainab. Untuk menghapuskan kerinduaannya, dia bekerja pada sebuah penginapan milik seorang Syekh. Sambil bekerja, dia terus memperdalam ilmu agama Islam dengan tekun.

Datanya pada halaman 42 :

Saya datang kerumah itu, rumah tempatsaya bersenda gurau dengan zainab diwaktu kecil. Rumah itu seakan-akan kehilangan semangat dan memang kehilangan semangat karena bekas-bekas kematian masih kelihatan nyata. Pintu luar terbuka sedikit dan sya ketuk daunnya yang menghadap ke dalam ; pintu terbuka …….. zainab yang membukakan.

4.2  Eksternal
Akan saya pikul rahasia itu jika engkau percaya kepadaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya ke dalam hatiku lagi”.

Data diatas terdapat pada halaman 13.

5.      Latar
5.1  Tempat
a.       Pelabuhan
b.      Jedah
c.       Kapal
d.      Ka’bah
e.       Tanah suci (mekah)

Data pada halaman 7 :

Waktu itu saya naik haji. Dari pelabuhan belawan saya telah berlayar ke jedah menumpang kapal “karimata”. Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari ke lima belas sampailah saya ke pelabuhan jedah, pantai laut merah itu. Dua hari kemudian sayapun sampai dimekah, tanah suci kaum muslimin sedunia.
5.2  Waktu
a.       Malam
b.      Empat belas hari

Datanya pada halaman 7 dan 15 :

Empat belas hari lamanya saya terkatung-katung di dalam lautan besar. Pada hari ke lima belas sampailah saya ke pelabuhan jedah, pantai laut merah itu. Dua hari kemudian sayapun sampai dimekah, tanah suci kaum muslimin sedunia.

Diwaktu malam, ketika akan tidur, kerap kali ibu menceritakan kebaikan ayah semasa beliau masih hidup ; ia seorang terpandang dalam pergaulan dan amat besar cita-citanya jika saya besar, akan menyerahkan saya masuk ke sekolah, supaya menjadi orang yang terpelajar.

6.      Alur = mundur
Alur dalam novel ini menggunakan alur mundur karena dalam novel ini ceritanya mundur di kisah masalalu pengarangnya.

7.      Ekstrinsik
7.1  Analisis Soaial
Dalam novel ini pengarang menggambarkan tentang kisah cinta abadi seorang pasangan kekasih yang diambil dari kisah nyata sahabat pengarang.

Datanya terdapat pada halaman 13 :

Akan saya pikul rahasia itu jika engkau percaya kepadaku, setelah itu saya kunci pintunya erat-erat, kunci itu akan saya lemparkan jauh-jauh, sehingga seorang pun tak dapat mengambilnya ke dalam hatiku lagi”.
 

7.2  Analisis Humaniora
-          Percintaan
Dalam novel ini pengarang mengangkat kisah tentang percintaan antara sepasang pemuda dan pemudi.

Datanya terdapat pada halaman  77-78 :

“Ya Rabbi, Ya Tuhanku, Yang Maha pengasih dan penyayang! Bahwasannya, di bawah lindungan ka’bah, rumah engkau yang suci dan terpilih ini, saya menadahkan tangan memohon kurnia.
Kepada siapakah saya akan pergi memohon ampun, kalau bukan kepada engkau, ya tuhan!
Tidak ada seutas talipun tempat saya bergantung lain dari pada tali engkau ; tida ada satu pintu yang akan saya ketuk, lain dari pada pintu engkau.
Berikan kelapangan jalan buat saya, hendak pulang ke hadirat engkau ; saya hendak menuruti orang-orang yang dahulu dari saya, orang-orang yang bertali hidupnya dengan hidup saya.
Ya rabbi, engkaulah yang maha kuasa, kepada engkaulah kami sekalian akan kembali……”

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar